Seavita dimulai dari dapur

Kami kesal pada minyak ikan yang bikin mual

Awalnya bukan soal bisnis. Ada satu botol bening di rak dapur, bau yang menempuk semalam suntuk, dan orang tua yang menolak minum lagi karena tidak tahan anyirnya.

Masalahnya ada di proses, bukan di ikannya

Waktu itu kami baru sadar: yang bikin pengalaman minum minyak ikan terasa menyiksa umumnya bukan bahan bakunya, tapi bagaimana bahan itu diolah. Minyak yang cuma disaring kasar masih membawa bau tengik, sisa kotoran, dan kadar logam berat yang tidak pernah diukur siapa pun. Ia dijual sebagai “minyak ikan hiu asli” dan harganya murah, tapi tidak ada satu pun kertas yang bisa ditunjukkan ke pembeli.

Maka kami memilih jalan yang lebih mahal: penyulingan bertingkat dan deodorisasi vakum. Tujuannya sederhana — supaya orang bisa minum tanpa perlu menahan napas, dan supaya ada dokumen yang bisa kami kirim kalau kamu minta.

Yang kami pegang sampai sekarang

  • Tanpa klaim berlebihan. Kami tidak pernah menulis “menyembuhkan”. Suplemen melengkapi makanan, bukan menggantikan dokter.
  • Satu batch, satu hasil uji. Kalau sebuah batch tidak lolos, batch itu tidak keluar dari gudang.
  • Harga yang dijelaskan. Kami berani menyebutkan kenapa yang satu lebih mahal dari yang curah.
  • Dikelola manusia. Yang menjawab chatmu admin, bukan bot yang memaksa checkout.
“Kalau produk kami bagus, tidak perlu dibentak-bentak dengan huruf kapital. Cukup dijelasin, yang butuh akan datang sendiri.”

Rantai pasok yang kami coba rapikan

Bahan baku datang dari beberapa kelompok nelayan mitra. Kami mencatat tanggal tangkapan, lama perjalanan, dan suhu penyimpanan sejak dari dermaga. Catatan itu mungkin terlihat sepele, tapi itu satu-satunya cara memastikan minyak yang masuk ke tangki produksi tidak sudah rusak sejak di jalan.

Produksi dilakukan di fasilitas berizin dengan pengawasan mutu di tiga titik: bahan baku, setengah jadi, dan produk jadi. Sisa produksi yang gagal tidak disulap jadi “promo borongan” — ia dimusnahkan dan dibuatkan berita acaranya.

Jalan yang sudah dilewati

Perlahan, tapi jelas arahnya

  1. Belajar dulu, jualan belakangan

    Satu tahun penuh mencoba formula, ganti pemasok tiga kali, dan minta orang-orang terdekat jujur mengicipi hasilnya. Banyak batch yang berakhir di tempat sampah.

  2. Pertama dijual ke tetangga

    Tanpa situs, tanpa iklan. Dari mulut ke mulut, dengan catatan kecil di buku tulis tentang siapa yang minum dan bagaimana kabarnya sebulan setelahnya.

  3. Punya tim admin sendiri

    Pesanan mulai datang dari luar kota. Kami merekrut admin yang sabar menjelaskan aturan minum, bukan yang cepat memaksa orang transfer.

Titik pasok yang kami datangi sendiri sebelum dijadikan mitra.

Cara kerja

Kami datang dulu, beli kemudian

Sebelum satu kelompok nelayan dijadikan pemasok, kami datang ke tempatnya. Lihat tempat menyimpan es, lihat cara memindahkan tangkapan, tanya berapa lama perjalanan ke pelabuhan.

  • 7 hariBatas dinginBahan yang melewati batas waktu penyimpanan dingin kami tolak, meski harganya sudah dibayar.
  • 3 titikPemeriksaan mutuBahan baku, setengah jadi, produk jadi. Masing-masing punya batas yang harus dipenuhi.
  • 1 nomorKode batch tercetakSetiap botol punya nomor yang bisa dilacak balik ke tanggal produksi dan hasil ujinya.
Janji layanan

Empat hal yang bisa kamu tuntut dari kami

Balasan ≤ 24 jam

Pada jam kerja, chatmu dibalas di hari yang sama. Kalau lambat, itu kesalahan kami.

Boleh retur

Botol bocor atau rusak di jalan, kami ganti tanpa debat selama ada video unboxing.

Boleh tanya keras-keras

Minta hasil uji, minta penjelasan label, minta saran dosis. Semua gratis.

Tidak ada rayuan

Kami tidak menjanjikan kesembuhan dan tidak memakai skema yang membuatmu berutang.

Mau dengar cerita lengkapnya?

Kami senang cerita soal proses, bukan cuma soal hasil

Tanya apa pun lewat WhatsApp — soal pemurnian, soal kenapa harganya segitu, soal mana varian yang cocok untuk kondisimu.

Chat sekarang